Sabtu, 16 Januari 2016

TANTANGAN AWAL TAHUN Berpacu di Industrie 4.0 dengan Monozukuri

MENINGKATKAN kualitas sumber daya manusia (SDM) dan daya saing proses produksi di Indonesia merupakan strategi utama yang harus dilakukan kalangan industri nasional dalam menghadapi persaingan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Korelasi kualitas SDM dan daya saing proses produksi itu tidak dapat dipisahkan, apalagi dunia saat ini telah memasuki fase industrie 4.0 yang merupakan babak baru dalam revolusi industri global.

Konsep industrie 4.0 yang diperkenalkan Jerman pada hakikatnya mentransformasi sektor manufaktur dan industri yang berjalan seiringan dengan penggunaan teknologi informasi yang menyeluruh dari tahapan perencanaan hingga pemasaran.

Dalam kaitan menghadapi pasar tunggal ASEAN atau MEA, Indonesia masih menerapkan pengembangan industri dengan pola lama, yaitu hanya mengandalkan buruh murah dan rendah inovasi. Sementara itu, negeri jiran seperti Singapura, Malaysia, serta Thailand telah memiliki teknologi maju untuk memasuki era industrie 4.0.

Untuk menandingi mereka, Indonesia memang butuh investasi sektor manufaktur berteknologi tinggi. Berbagai paket kebijakan stimulus yang diterbitkan pemerintah memang diharapkan bisa memberikan kemudahan bagi investor di sektor manufaktur sehingga proses transfer teknologi bisa berjalan mulus.

Bicara transfer teknologi bukan seka dar bagaimana menciptakan barang berkualitas, melainkan juga bagaimana SDM lokal mampu memahami dan menguasai teknologi tersebut.

Ada proses dan tahapan yang harus dilewati untuk bisa disebut sebagai transformasi teknologi. Pertama transfer of job (pekerjaan), transfer of know how (pemahaman), dan kemudian terjadilah transfer teknologi.

Dalam menyiapkan SDM berkualitas, kita bisa mencontoh Jepang yang menerapkan konsep budaya Monozukuri dan Hitozukuri sebagai salah satu faktor pendukung keberhasilan industri `Negeri Matahari Terbit' dalam bersaing di kancah global.

Monozukuri berasal dari kata mono berarti produk dan zukuri yang berarti proses penciptaan atau produksi, sementara hito berarti manusia.

Monozukuri dan Hitozukuri mengandung makna industri kuat dan berdaya saing tinggi yang hanya mungkin tumbuh jika manusia bersumber daya ilmu dan teknologi serta memiliki daya kreatif dan inovatif. Manusia kreatif dan inovatif itulah yang dijadikan pilar utama proses produksi barang dan jasa.

Bisa dibayangkan, jika pemerintah membekali konsep Monozukuri dan Hitozukuri serta memasukkan pemahaman industrie 4.0 dalam proses pendidikan SDM di balai latihan kerja, Indonesia tidak hanya akan siap menghadapi persaingan di regional di MEA, tapi bisa melaju ke level persaingan global. (Tjahyo Utomo/E-4) 9/01/2016 - 13

Rental Mobil Pekanbaru Gloria Rent Car