Jumat, 10 Oktober 2014

Diplomasi ala Bung Karno Pariwisata, Perdagangan, dan Ekonomi

SEBAGAI pemasar pariwisata pemerintah, saya mendapat cukup banyak kesempatan berkunjung dan mempromosikan pariwisata Indonesia ke berbagai negara. Seperti dinyatakan United Nations World Tourism Organization (UNWTO) atau organisasi tertinggi di dunia bidang pariwisata, cara ampuh untuk mempererat persahabatan dan saling pengertian antarbangsa ialah dengan pariwisata (tourism is a tool to better understanding among nations).

Ketika mendapatkan kesempatan menghadiri sidang Dewan Eksekutif UNWTO ke-99 di Kota Samarkand, Uzbekistan, 1-3 Oktober lalu, Indonesia terpilih sebagai Ketua Sidang Dewan Eksekutif. Saya pun harus memimpin sidang dibantu dengan dua wakil dari Jamaika dan Mozambik. Uzbekistan (dulu dikenal sebagai Turkistan) melahirkan banyak tokoh ilmu pengetahuan berkelas dunia antara abad ke-8 dan abad ke-12.

Di antaranya Abu Ali bin Sina (Ibnu Sina) yang dalam dunia medis internasional dikenal sebagai Avisena, Mohammad Al-Khorazmi (pencetus aljabar yang dikenal sebagai algorithmus dan yang menemukan nilai nol), serta Abu Rayhan Beruni (ahli pengetahuan modern), dan masih banyak lainnya.

Lalu apa hubungannya dengan Bung Karno, presiden pertama kita? Deputi Perdana Menteri Rustam Sadykovich Azimov, Menteri Hubungan Ekonomi Internasional Uzbekistan Elyor M Ganiev, dan imam masjid sekaligus pengurus Mausoleum Imam Bukhari, menceritakan secara singkat bahwa di era Uni Soviet, sekitar 1961 dan ada juga yang mengatakan di sekitar 1957, Bung Karno melakukan kunjungan resmi ke Moskow sebagai Kepala Negara RI dan sebagai pemimpin negara-negara Gerakan Non-Blok. Dalam kunjungan tersebut, Presiden Soekarno meminta kepada Presiden Kruschev untuk dapat berziarah ke makam Imam Bukhari di Samarkand.

Pada waktu itu, kalau bukan Bung Karno, mustahil permintaan itu dapat dipenuhi. Alasannya, pemerintah Uni Soviet melarang segala bentuk kegiatan yang terkait dengan agama.

Selain itu, yang lebih sulit, baik pemerintah pusat di Moskow maupun pemerintah daerah di Samarkand tidak mengetahui dengan pasti di mana makam imam besar tersebut berada. Akhirnya dengan susah payah makam Imam Bukhari dapat ditemukan kembali dalam keadaan telantar nyaris hilang ditelan alam.

Demikian pula bila kita berkunjung atau promosi pariwisata Indonesia di Afrika. Hampir bisa dipastikan mereka akan menyambut baik. Apalagi setelah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung 1955, bangsa-bangsa Afrika bangkit dan merdeka.

Karena itu, Bung Karno diabadikan dalam berbagai bentuk, seperti di Maroko ada Masjid Soekarno, ada juga Jalan Asia Afrika, serta di Aljazair ada foto Bung Karno yang relatif besar di Museum Nasional Aljazair. Bahkan ada kantor persiapan kemerdekaan Aljazair di Menteng, Jakarta. Itu termasuk bantuan Indonesia dalam bentuk dukungan logistik untuk proses kemerdekaannya.

Borobudur, ada jejak sejarah Bung Karno. Ghana pada masa itu menjadi pusat Gerakan Non-Blok di wilayah Afrika Barat. Tidak mengherankan Bung Karno memperkenalkan batik dan menjadi warisan persahabatan antara Ghana dan Indonesia. Bung Karno juga yang memberikan kepercayaan kepada Kwame Nkrumah untuk jadi pemimpin yang berdaulat.

Di Mesir juga demikian, Bung Karno memberikan hadiah bagi sahabatnya, Presiden Gamal Abdul Nasser, yakni bibit mangga, yang hingga saat ini masih terjaga dan dikenal sebagai mangga Bung Karno. Saat berkunjung ke Sudan, negara Islam yang kaya minyak dan tambang itu saya ketahui ternyata memperoleh dukungan Bung Karno untuk menjadi bangsa yang merdeka. Dalam KAA 1955 delegasi Sudan hadir sebagai bagian dari negara Mesir, tetapi oleh Bung Karno, delegasi Sudan diberikan bendera dari sapu tangan Bung Karno secara langsung sebagai tanda delegasi di meja sidang. Hasilnya Sudan pada 1956 merdeka sebagai negara berdaulat. Namun, ironisnya kini yang terlihat di jalan-jalan besar di Sudan ialah pompa bensin Petronas Malaysia dan produk-produk dari Tiongkok.
Pada waktu promosi pariwisata ke Pyongyang, Korea Utara, terutama di kalangan pemerintah dan mayoritas intelektualnya, Bung Karno merupakan simbol persahabatan. Bung Karno memberi kenang-kenangan berupa anggrek pada waktu Presiden Kim Il-sung berkunjung ke Indonesia. Hebatnya bunga tersebut diberi nama kimilsungia dan sangat dipelihara sebagai lambang persahabatan kedua negara. Setiap tahunnya diadakan festival bunga dan Indonesia selalu diundang.

Selanjutnya pada 2013, saya diundang menghadiri Sidang Umum UNWTO di Beograd, Serbia. Saya berjumpa dengan Menteri Kerja Sama Luar Negeri yang mengundang Indonesia sebagai partner country dalam rangka Serbian Travel Mart.

Meski acara itu relatif baru, ada sekitar 56 negara dari Eropa Tengah, Eropa Timur, dan Eropa Barat. Indonesia sangat dikenal bangsa Serbia karena Presiden Soekarno bersahabat baik dengan Presiden Josef Bros Tito. Pada saat saya berkunjung ke makam Presiden Tito, masih terlihat foto-foto Bung Karno dan seluruh pendiri Gerakan Non-Blok.

Ke depan kita harus mempererat hubungan antarnegara yang bisa menjadi peluang kemajuan Indonesia di sektor ekonomi, budaya, pariwisata, teknologi, dan sebagainya.

Sepertinya kita belum mengapitalisasi hasil diplomasi Bung Karno untuk kepentingan bangsa Indonesia.
Di sisi lain, dalam memperjuangkan posisi Indonesia di antara negaranegara lain, akan sangat mudah bila kita mendapatkan dukungan dari banyak negara sahabat untuk kepentingan nasional. Dengan hubungan sejarah dan emosional tersebut, kita akan memiliki sahabat sejati (a friend indeed) pada saat kita memerlukan dukungan mereka (a friend in need).

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang nyata dan dianggap sangat mampu memperkuat persahabatan antarbangsa atau negara. Pada era globalisasi ini, faktor emosional dan sejarah masih sangat kuat untuk mendukung kepentingan nasional dan hubungan antarbangsa. Media Indonesia, 8/10/2014, hal : 10

Rental Mobil Pekanbaru Gloria Rent Car